21 September 2010

Album Kegiatan DPRa PKS Kelurahan Nanggewer pada kegiatan Maulid Nabi dan Munasoroh Palestin 2010

0 komentar

Bersama Ustad Sunmandjaya Rukmandis ....








Optimis demi kemajuan dakwah...








Ketua DPRa said : Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar....









Hai Mujahid muda maju kehadapan... sibakkan penghalang satukan tujuan... kibarkan panji Islam dalam satu barisan... bersama berjuang kita junjung keadilan......











Selengkapnya......

20 September 2010

BAKSOS PKS NANGGEWER.... AKTIF TERUS MESKI BUKAN MUSIM KAMPANYE...

0 komentar

Beberapa kali kader Partai Keadilan Sejahtera Kelurahan Nanggewer harus menghela nafas panjang karena jalanan yang sempit, terjal dan licin saat membawa peralatan yang akan digunakan pada kegiatan pelayanan kesehatan yang diadakan di wilayah RW. 06 Kelurahan Nanggewer sekitar bulan juli lalu.
Lokasi pelayanan kesehatan memang seringnya berada dilokasi-lokasi padat penduduk dan lumayan jauh dari akses jalan utama. Menurut Ust. Ikhsan Ramadhan, ketua DPRa PKS Nanggewer, lokasi Pelayanan Kesehatan ini memang mensyaratkan lokasi yang relatif jauh dari pusat pelayanan kesehatan. “Dan tentunya di lokasi tersebut banyak dhuafa [masyarakat kalangan bawah]”.

“Di masa kampanye maupun tidak, PKS tetap partai yang peduli yang memberikan manfaat kepada masyarakat”. Papar Ust. Suhartono, M.Pd, Ketua DPC PKS Cibinong disela-sela acara. “Alhamdulillah, sampai saat ini, program pelayanan kesehatan merupakan salah satu program yang mendapatkan respon positif dari masyarakat”, Ungkap Ust. Suhartono.

Secara total sepanjang tahun 2008 sampai 2010 program pelayanan kesehatan yang telah terlaksana sekitar 4 kali, yaitu di RW. 08, 02, 04, dan 06. Dan telah melayani kurang lebih 550 pasien. Sedangkan tingkat kunjungan pasien terkecil ada di tahun 2010 yaitu di RW. 06 yang hanya mencapai 85 pasien. (urip-)

Foto-foto pengobatan gratis :






Selengkapnya......

11 Juli 2010

Kisah Sa’id bin Harits Berbuka Puasa Bersama Bidadari

0 komentar

Oleh: Mochamad Bugi
www.dakwatuna.com

dakwatuna.com - Hisyam bin Yahya al-Kinaniy berkata, “Kami berperang melawan bangsa Romawi pada tahun 38 H yang dipimpin oleh Maslamah bin Abdul Malik. Dalam pertempuran itu ada di antara kami seorang lelaki yang bernama Sa’id bin Harits yang terkenal banyak beribadah, berpuasa di siang hari, dan shalat di malam hari.

Saya melihat orang itu adalah orang yang sangat bersungguh-sungguh dalam beribadah, baik siang maupun malam hari. Jika dia tidak sedang melakukan shalat atau ketika kami berjalan-jalan bersama, saya lihat dia tidak pernah lepas dari berdzikir kepada Allah dan membaca Al-Qur’an.

Pada suatu malam ketika kami melakukan pergantian jaga (saat mengepung benteng Romawi), sungguh saat itu kami dibuat bingung olehnya. Saat itu saya katakan kepadanya, ‘Tidurlah sebentar karena kamu tidak tahu apa yang akan terjadi pada musuh. Jika terjadi sesuatu agar nantinya kamu dalam keadaan siaga.’

Lalu dia tidur di sebelah tenda sedangkan saya berdiri di tempatku berjaga. Di saat itu saya mendengar Said berbicara dan tertawa, lalu mengulurkan tangan kanannya seolah-olah mengambil sesuatu kemudian mengembalikan tangannya sambil tertawa. Kemudian ia berkata, ‘Semalam.’ Setelah berkata seperti itu tiba-tiba ia melompat dari tidurnya dan terbangun dan bergegaslah dia bertahlil, bertakbir, dan bertahmid.

Lalu saya bertanya kepadanya, ‘Bagus sekali, wahai Abul Walid (panggilan Sa’id), sungguh saya telah melihat keanehan pada malam ini. Ceritakanlah apa yang kau lihat dalam tidurmu.’

Dia berkata, ‘Aku melihat ada dua orang yang belum pernah aku lihat kesempurnaan sebelumnya pada selain diri mereka berdua. Mereka berkata kepadaku, ‘Wahai Sa’id, berbahagialah, sesungguhnya Allah swt. telah mengampuni dosa-dosamu, memberkati usahamu, menerima amalmu, dan mengabulkan doamu. Pergilah bersama kami agar kami menunjukkan kepadamu kenikmatan-kenikmatan apa yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu.’

Tak henti-hentinya Sa’id menceritakan apa-apa yang dilihatnya, mulai dari istana-istana, para bidadari, hingga tempat tidur yang di atasnya ada seorang bidadari yagn tubuhnya bagaikan mutiara yang tersimpan di dalamnya. Bidadari itu berkata kepadanya, “Sudah lama kami menunggu kehadiranmu.” Lalu aku berkata kepadanya, “Di mana aku?” Dia menjawab, “Di surga Ma’wa.” Aku bertanya lagi, “Siapa kamu?” Dia menjawab, “Aku adalah istrimu untuk selamanya.”

Sa’id melanjutkan ceritanya. “Kemudian aku ulurkan tanganku untuk menyentuhnya. Akan tetapi dia menolak dengan lembut sambil berkata, ‘Untuk saat ini jangan dulu, karena engkau akan kembali ke dunia.’ Aku berkata kepadanya, “Aku tidak mau kembali.” Lalu dia berkata, “Hal itu adalah keharusan, kamu akan tinggal di sana selama tiga hari, lalu kamu akan berbuka puasa bersama kami pada malam ketiga, insya Allah.”

Lalu aku berkata, “Semalam, semalam.” Dia menjawab, “Hal itu adalah semuah kepastian.” Kemudian aku bangkit dari hadapannya, dan aku melompat karena dia berdiri, dan saya terbangun.

Hisyam berkata, “Bersyukurlah kepada Allah, wahai saudaraku, karenaDia telah memperlihatkan pahala dari amalmu.” Lalu dia berkata, “Aapakah ada orang lain yang bermimpin seperti mimpiku itu?” Saya menjawab, “Tidak ada.” Dia berakta, “Dengan nama Allah, aku meminta kepadamu untuk merahasiakan hal ini selama aku masih hidup.” Saya katakan kepadanya, “Baiklah.”

Lalu Sa’id keluar di siang hari untuk berperang sambil berpuasa, dan di malam hari ia melakukan shalat malam sambil menangis. Sampai tiba saatnya, dan sampailah malam ketiga. Dia masih saja berperang melawan musuh, dia membabat musuh-musuhnya tanpa sekalipun terluka. Sedangkan saya mengawasinya dari kejauhan karena saya tidam mampu mendekatinya. Sampai pada saat matahari menjelang terbenam, seorang lelaki melemparkan panahnya dari atas benteng dan tepat mengenai tenggorokannya. Kemudian dia jatuh tersungkur, lalu dengan segera aku mendekati dia dan berkata kepadanya, “Selamat atas buka malammu, seandainya aku bisa bersamamu, seandainya….”

Lalu ia menggigit bibir bawahnya sambil memberi isyarat kepadaku dengan tersenyum. Seolah-olah dia berharap ‘Rahasiakanlah ceritaku itu hingga aku meninggal’. Kemudian dari bibirnya keluar kata-kata, “Segala puji bagi Allah yang telah menepati janjiNya kepada kami.” Maka demi Allah, dia tidak berucap kata-kata selain itu sampai dia meninggal.

Kemudian saya berteriak dengan suaraku yang paling keras, “Wahai hamba-hamba Allah, hendaklah kalian semua melakukan amalan untuk hal seperti ini,” dan aku ceritakan tentang kejadian tersebut. Dan orang-orang membicarakan tentang kisah itu dan mereka satu sama lain saling memberikan teguran dan nasihat. Lalu pada pagi harinya mereka bergegas menuju benteng dengan niat yagn tulus dan dengan hati yang penuh kerinduan kepada Allah swt. Dan sebelum berlalunya waktu Dhuha benteng sudah bisa dikuasai berkat seorang lelaki saleh itu, yaitu Sa’id bin Harits.

Selengkapnya......

Arsip

 

DPRa PKS Nanggewer. Design Template by Brian Gardner Template Modification 2010 by Abu Fithra